Kupang – Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) merupakan suatu indikator yang ditetapkan pemerintah dalam mengukur keberhasilan pembangunan suatu daerah yang dilihat dari kualitas hidup manusia.
IPM dilihat dari tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Semakin tinggi nilai IPM suatu negara/daerah menunjukkan pencapaian pembangunan manusianya semakin baik.
Di Kota Kupang, ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sesuai data Badan Pusat Statistik, dalam 10 tahun terakhir, tahun 2013 sampai dengan tahun 2023 angka IPM mengalami kenaikan.
Pada tahun 2013 angka IPM Kota Kupang sebesar 77,24, tahun 2014 sebesar 77,58, tahun 2015 sebesar 77,95, tahun 2016 sebesar 78,14, tahun 2017 sebesar 78,25, tahun 2018 sebesar 78,84, tahun 2019 sebesar 79,55, tahun 2020 sebesar 81,91, tahun 2021 sebesar 81,93, tahun 2022 sebesar 82,37 dan tahun 2023 sebesar 82,77.
Data tersebut menunjukan dalam kurun waktu tahun 2017-2022 terdapat kenaikan 3,5 poin atau tiga kali lipat dibanding IPM tahun 2012-2017 (era Jonas Salean sebagai walikota) yang hanya naik 1 poin. Di era Jeriko IPM Kota Kupang masuk kategori sangat tinggi.
Kenaikan angka IPM tersebut seiring dengan menurunnya Angka kemiskinan Kota Kupang dalam 10 tahun terakhir.
Pada tahun 2013 angka kemiskinan Kota Kupang tercatat sebesar 9,12 persen. Selanjutnya, pada tahun 2014 sebesar 8,7%, tahun 2015 sebesar 10,21%, tahun 2016 sebesar 9,97%, tahun 2017 sebesar 9,81%, tahun 2018 sebesar 9,61%, tahun 2019 sebesar 9,22%, tahun 2020 sebesar 8,96%, tahun 2021 sebesar 9,17%, tahun 2022 sebesar 8,61%, tahun 2023 sebesar 8,61% dan tahun 2024 sebesar 8,24%.
Angka kemiskinan Kota Kupang di bawah rata-rata angka kemiskinan Provinsi NTT yang mencapai 19,48% tahun 2024.
Sejak era kepemimpinan Jeriko sebagai Wali Kota Kupang, angka kemiskinan terus menurun walaupun tidak signifikan. Padahal Kota Kupang selama 2 tahun dilanda dua bencana besar yakni Covid-19 dan Badai Seroja.
Marleni Liu, warga RT 17 kelurahan Naikoten 1 kecamatan Kota Raja mengapresiasi capaian pemerintah kota Kupang tersebut.
Menurutnya IPM yang naik dari tahun ke tahun dalam rentang 10 tahun menunjukan kalau pembangunan ibukota tengah berkembang dan itu tidak lepas dari kemampuan pemerintah dalam mengeksekusi program-program pembangunan secara baik.
Ia berharap Pemkot Kupang tidak terlena dengan capaian angka IPM tersebut namun terus berupaya agar warga kota Kupang seutuhnya punya kualitas hidup yang baik.
“Indikator IPM itu tak lepas dari kemampuan ekonomi. kualitas hidup manusia akan baik kalau ekonominya baik, ekonomi baik pendidikan pasti baik, poinnya ekomoni baik, IPM pasti baik, kedepan Pemkot perlu fokus pada pengembangan ekonomi warga,” katanya.(Jmb)
Kupang - Prosesi Jalan Salib menyambut Hari Raya Jumat Agung digelar Pemuda Klasis Kota Kupang,…
Kupang - Wakil Gubernur (Wagub) NTT Johni Asadoma menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pemuda…
Kupang - Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi bersama Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Timur (NTT)…
Kupang - Jefrianto Haga, 22, remaja asal Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang, NTT, dievakuasi…
Kupang - Di sela rangkaian kegiatan bakti sosial HUT TNI AU Tahun 2025, General Manager…
Kupang - Pertamina Patra Niaga melakukan inspeksi mendadak ke sebuah SPBU di Jalan Frans Lebu…