Kupang–Penanaman padi dengan metode System of Rice Intensification (SRI) mampu meningkatkan produksi padi petani sampai 100 persen
Metode ini diterapkan sukses diterapkan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) bersama Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Kristen Arta Wacana (UKAW) Kupang di Kelompok Tani ‘Rukun Tani’ di Desa Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
ICCTF bersama Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Kepala Biro Renortala Bappenas Rohmad Supriadi, serta perwakilan dari UGM dan UKAW Kupang melakukan panen raya padi SRI di persawahan tersebut, Sabtu (21/10).
Budidaya padi sistem SRI juga diterapkan di persawahan Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang.
SRI merupakan metode berkelanjutan untuk pertumbuhan tanaman dengan menggunakan bibit berumur muda atau tujuh hari setelah pembenihan, jarak tanam lebar, pupuk organik, irigasi terputus-putus, dan beberapa penyiangan yang memiliki produktivitas padi lebih tinggi dibandingkan
dengan pengelolaan sistem konvensional.
Metode ini berbeda dengan sistem konvensional menggunakan bibit umur lebih panjang berusia 25 hari, penggenangan air secara terus-menerus, jarak tanam rapat, dan pemakaian pupuk kimia yang tinggi.
Direktur ICCTF Tonny Wagey mengatakan ICCTF satu-satunya lembaga dana perwalian untuk perubahan iklim Indonesia dibentuk sejak 2009 sebagai salah satu komitmen pertemuan perubahan iklim di Bali pada 2007.
ICCTF bertugas meningkatkan efektivitas dan efisiensi dari koordinasi Indonesia dalam menanggulangi dampak perubahan iklim. Budidaya padi SRI merupakan bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, mengingat efek buruk dari perubahan iklim sudah dirasakan oleh banyak masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.
Apalagi Nusa Tenggara Timur, sebagai daerah beriklim kering yang dipengaruhi angin musim, sektor pertanian seperti padi sering sekali mengalami kesulitan dalam mendapatkan hasil panen yang konsisten.
Menurutnya metode SRI menjawab tantangan masyarakat petani terutama di daerah kering dan rentan sebagai strategi adaptasi perubahan iklim yang paling tepat guna. Kegiatan adaptasi dalam program ini bertujuan untuk mengembangkan strategi ketangguhan iklim dan mencegah kerentanan petani serta lahan pertaniannya akibat kekeringan melalui budidaya SRI dan informasi Pertanian berbasis teknologi aplikasi.
Seperti diketahui, pada pertemuan perubahan iklim di Paris, Presiden Joko Widodo janji menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 29 persen sampai 2030.
“ICCTF tidak hanya menurunkan target gas rumah kaca tetapi juga melihat dampak terhadap pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan pemerataan pembanguann di bebagai sektor. Tugas ICCTF membantu pemerintah untuk mencapai target (penurunan emisi gas rumah kaca) tersebut dengan adanya kerjasama kolaterial,” ujarnya.
Dia menyebutkan teknologi SRI di Desa Tarus tesebut pertama uji coba di luar Pulau Jawa, menjadi kebanggan ICCTF dan berpotensi menjadi percontohan nasional hingga internasional. “Dengan intervensi kami yang kecil ini dapat memberikan dampak yang besar,” tandasnya.
Produksi Padi Naik
Sesuai laporan ICCTF, metode SRI dapat meningkatkan produktivitas padi 3 ton per hektare (ha). Jika menggunakan metode konvensional, produksi padi per hektara antara 5-6 ha.
Peningkatan signifikan terjadi di Desa Tarus yang semula rata-rata hasil panen padi 5,6 ton per ha, dengan metode SRI menjadi hasil panen meningkat jadi 12 ton per ha. Kendati masih uji coba, menurut Tonny, metode SRI ternyata cocok untuk wilayah NTT. “Kami minta metode ini diasimilasikan dengan program pemerintah provinsi dan kabupaten,” kata Dia.
Metode ini sudah diterapkan di negara dan berhasil membuktikan hasil panen maksimal seperti di Madagaskar mencapai 100 persen, 65 persen di Afghanistan, 42 persen di Irak, dan 11.3 persen di China.
Sementara itu Sekretaris Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Murtiningrum mengatakan implementasi program ini turut melibatkan masyarakat terutama dalam menganalisis ekologi dan perubahan iklim melalui penerapan teknologi telemetri.
Tujuannya masyarakat menjadi lebih memahami manajemen pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim. “Program yang dilakukan dapat mendorong kemandirian kelompok tani dalam menentukan metode pertaniannya mulai dari proses pembibitan, penyimpanan, hingga pendistribusian hasil pertanian yang menguntungkan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya Desa Baumata dan Tarus dipilih sebagai lokasi budidaya padi dengan teknologi SRI karena tidak memadainya infrastruktu irigasi dan jalur irigasi yang tidak permanen yang membuat risiko gagal panen sangat besar. Misalnya di Desa Baumata, pada 2015 terjadi gagal panen mencapai 34,5 ha dari lahan sawah seluas 146 ha.
Bapak Yanes Sain, anggota kelompok tani ‘Rukun Tani’ Desa Tarus mengatakan sejak menggunakan metode SRI, hasil panen gabah meningkat 100 persen. Menurutnya dengan metode konvensional, hasil panen dari 10 are demplot sebesar 600 kilogram. Sejak menggunakan metode SRI, produksi gabah mencapai 1.200 kilogram. (sumber: MI/palce amalo)